JAGA KARAWANG — Pesisir Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, mendadak tercemar tumpahan minyak yang hingga kini belum diketahui secara pasti sumbernya.
Limbah berwarna gelap tersebut terlihat menyebar di sepanjang bibir pantai. Tak hanya mengotori kawasan pesisir, aroma menyengat dari tumpahan minyak juga membuat warga resah dan khawatir terhadap dampaknya bagi kesehatan maupun lingkungan.
Kepala Desa Cemarajaya, Rudi Chandia, mengatakan tumpahan minyak mulai terlihat sejak Selasa (25/8/2026).
Pemerintah desa pun langsung melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mencari tahu sumber pencemaran.
Menurut Rudi, pihak desa telah berkomunikasi dengan Pertamina ONWJ. Namun, berdasarkan informasi yang diterima, Pertamina menyatakan tidak terdapat kebocoran dari fasilitas mereka.
“Sejak Selasa tumpahan minyak ini sudah terlihat. Kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina ONWJ, namun dari pihak Pertamina menyampaikan tidak ada kebocoran dari fasilitas mereka,” ujar Rudi.
Ia berharap Pertamina dapat ikut membantu proses penelusuran sekaligus penanganan limbah yang mencemari pesisir.
Ahmad Alexa: Jangan Sampai Warga Jadi Korban
Sementara itu, tokoh pemuda Kecamatan Cibuaya, Ahmad Alexa, meminta pemerintah dan seluruh instansi terkait tidak berhenti pada pengambilan sampel semata.
Ia mendesak sumber pencemaran segera diusut secara menyeluruh. Jika nantinya ditemukan pihak yang terbukti bertanggung jawab, Ahmad meminta agar diberikan sanksi sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.
“Pencemaran ini sangat merugikan warga di sekitar pantai. Ada dua kerugian besar yang dirasakan,” tegas Ahmad Alexa.
Menurutnya, kerugian pertama menyangkut kesehatan masyarakat. Bau minyak yang menyengat dan pencemaran di kawasan pesisir dinilai dapat menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang setiap hari beraktivitas di sekitar pantai.
Kerugian kedua adalah terganggunya mata pencaharian nelayan.
Dengan kondisi laut yang tercemar, para nelayan setempat disebut tidak dapat menjalankan aktivitas melaut secara normal untuk mencari ikan.
“Jangan sampai masyarakat yang akhirnya menjadi korban. Mereka kehilangan rasa aman, lingkungan tercemar, dan nelayan kehilangan mata pencaharian,” ujarnya.
Ahmad menegaskan, siapa pun yang nantinya terbukti menjadi sumber pencemaran harus bertanggung jawab, bukan hanya terhadap pembersihan lingkungan, tetapi juga terhadap kerugian masyarakat yang terdampak.
“Kalau sudah terbukti siapa penyebabnya, jangan hanya selesai dengan pernyataan. Harus ada tanggung jawab. Lingkungan wajib dipulihkan dan kerugian warga maupun nelayan harus diperhitungkan sesuai aturan,” pungkasnya.
Di sisi lain, Camat Cibuaya, Ridwan, menyampaikan bahwa Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah merespons laporan pencemaran tersebut dengan turun langsung ke lokasi.
Petugas mengambil sampel air untuk selanjutnya dilakukan pengujian di laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi karakteristik pencemaran sekaligus menjadi bahan untuk menelusuri sumber tumpahan minyak.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari DLH maupun Pertamina ONWJ terkait hasil pemeriksaan atau sumber pasti tumpahan minyak tersebut.
Kini warga menunggu langkah konkret pemerintah dan instansi terkait. Sebab, bagi masyarakat pesisir Cemarajaya, persoalan ini bukan sekadar pantai yang kotor, tetapi menyangkut lingkungan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup para nelayan. **

