JAGA JAKARTA — Aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Kamis (27/8/2026), memasuki babak baru. Setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) membubarkan diri usai menggelar audiensi dengan DPR RI, giliran kelompok mahasiswa yang bersiap memenuhi kawasan Senayan.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold Hutagalung memastikan massa asal Pati telah meninggalkan lokasi dan diantar pulang oleh personel kepolisian.
Reynold juga menegaskan tidak ada massa aksi Pati yang ditahan. Namun, kepolisian sempat mengamankan sejumlah orang yang diduga membawa senjata tajam serta terlibat dalam dugaan pencopetan.
“Identitasnya sedang diproses, dibawa langsung tadi,” ujar Reynold di Polda.
Menurutnya, pembubaran massa AMPB berlangsung setelah proses audiensi selesai dan bukan karena adanya tindakan paksa dari aparat.
“Mereka telah selesai melaksanakan audiensi bersama-sama,” katanya.
Meski massa Pati telah meninggalkan lokasi, aparat kepolisian tidak serta-merta mengendurkan pengamanan di kawasan Senayan dan sekitarnya.
Pasalnya, aksi berikutnya dijadwalkan diisi oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa (GERAM).
Koalisi tersebut menghimpun lebih dari 14 organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil. Massa GERAM dijadwalkan mulai bergerak sekitar pukul 14.00 WIB dengan estimasi peserta mencapai 1.000 orang.
Koordinator Aksi GERAM, Ahmad Mixel M.I, menyebut aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, tetapi bagian dari pengawasan publik terhadap kinerja DPR RI, khususnya dalam bidang legislasi, pengawasan, dan anggaran.
GERAM juga mendesak pimpinan DPR RI turun langsung menemui dan berdialog dengan massa aksi.
Mereka bahkan memberikan sinyal bahwa jika tuntutan dialog tersebut tidak dipenuhi, konsolidasi gerakan dengan jumlah massa yang lebih besar bisa dilakukan.
GERAM membawa sedikitnya 10 tuntutan dalam aksi kali ini. Isinya mencakup sejumlah isu politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hingga ketenagakerjaan.
Di antaranya desakan pertanggungjawaban terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, penghentian program Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG), serta penolakan terhadap kebijakan perpajakan yang dinilai membebani masyarakat kecil.
GERAM juga menuntut pendidikan dan layanan kesehatan gratis, kenaikan upah buruh, serta penetapan status bencana nasional bagi wilayah terdampak di Sumatra dan NTT.
Tak berhenti di sana, massa turut membawa isu perlindungan hak pekerja rumah tangga, penghapusan militerisasi ruang sipil, pembebasan tahanan politik, hingga penyitaan aset hasil korupsi.
Sejumlah organisasi yang tergabung dalam GERAM antara lain DPM UNUSIA, Aliansi Mahasiswa Universitas Terbuka, BEM Universitas Trilogi, Serikat Mahasiswa Indonesia, dan Serikat Tahanan Politik.
Dengan bergantinya kelompok massa, perhatian kini tertuju pada bagaimana aparat mengawal aksi mahasiswa tersebut agar penyampaian aspirasi tetap berjalan, sementara keamanan kawasan DPR RI dan masyarakat sekitar tetap terjaga.
Isyana

