JAGA BEKASI — Kisah inspiratif datang dari perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Surya (46), warga Kampung Rawa Banteng Kaum, yang sehari-hari bekerja sebagai pemilah sampah pabrik, secara mengejutkan berhasil meraih suara terbanyak dan memenangkan kontestasi Pilkades.
Kemenangan tersebut menjadi cerita tersendiri. Sebab, sebelum maju sebagai calon kepala desa, Surya dikenal sebagai warga biasa yang hidup sederhana dan mengandalkan penghasilan dari memilah barang-barang buangan pabrik yang masih memiliki nilai ekonomis.
Barang-barang tersebut dipilah untuk kemudian dijual kembali. Dari pekerjaan itu, Surya tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga memberikan penghasilan bagi tiga orang pekerja yang membantunya.
Rumahnya pun jauh dari kesan mewah. Namun, kondisi tersebut tak membuat Surya minder untuk maju dalam Pilkades.
Bahkan, niatnya sempat mendapat cibiran dari sejumlah pihak. Kondisi ekonominya yang terbatas membuat pencalonannya dianggap sulit bersaing, terlebih karena harus berhadapan dengan petahana.
“Orang susah enggak punya duit ingin mencalonkan. Begitu kata orang-orang,” ujar Surya saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Pencalonan Surya bahkan sempat dianalogikan seperti “semut melawan gajah”. Namun, berbagai anggapan tersebut justru membuatnya semakin yakin untuk melangkah.
“Saya orangnya optimis dan saya enggak percaya hal-hal kayak gitu. Rezeki itu kan bukan manusia yang menentukan. Kita percaya sama Yang Maha Kuasa. Saya yakin akan berhasil,” katanya.
Surya mengaku keputusan maju sebagai calon kepala desa berawal dari dorongan hati dan dukungan orang-orang terdekat.
“Saya dari hati sendiri. Saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman. Semua support untuk mencalonkan sebagai kepala desa,” ujarnya.
Keraguan ternyata bukan hanya datang dari masyarakat. Sang istri, Ratih Ratnasari (46), juga sempat mempertanyakan keputusan Surya untuk maju dalam Pilkades.
Maklum, kondisi ekonomi keluarga mereka terbilang pas-pasan. Penghasilan keluarga dari pekerjaan Surya disebut berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Ratih pun sempat mengingatkan suaminya mengenai keterbatasan biaya untuk mengikuti kontestasi Pilkades.
“Pak, kita kan enggak punya. Modalnya enggak ada, masa mau maju terus?” tutur Ratih, mengingat percakapannya dengan Surya saat itu.
Namun, Surya tetap memilih melangkah.
“Enggak apa-apa, kita maju aja terus,” kata Ratih menirukan ucapan suaminya.
Dukungan masyarakat kemudian menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Surya dan keluarganya.
“Orang-orang semangat dukung saya,” tambah Ratih.
Kini, perjalanan Surya dari seorang pemilah sampah pabrik menuju kursi kepala desa menjadi kisah yang menarik perhatian.
Kemenangannya menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi bukan satu-satunya ukuran seseorang untuk berani tampil dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Bagi Surya, perjuangan tersebut bukan sekadar soal memenangkan Pilkades, tetapi juga tentang keberanian untuk bermimpi, berusaha, dan tetap percaya pada jalan yang dipilihnya. (Jgn)

